Friday, July 12, 2013

Golkar Bisa Berkoalisi dengan Nasdem



Golkar Bisa Berkoalisi dengan Nasdem
Penulis :
Sandro Gatra
Jumat, 12 Juli 2013 | 18:25 WIB

Abdurizal Bakrie & Surya Paloh

Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie (kiri), didampingi Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Idrus Marham (tengah), dan Ketua Bidang Informasi dan Penggalangan Opini Partai Golkar, Fuad Mansyur saat refleksi akhir tahun di kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Selasa (27/12/2011). | KOMPAS/Hendra A Setyawan

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie alias Ical dan Ketua Umum DPP Partai Nasdem Surya Paloh bertemu dalam acara buka puasa bersama di Kantor DPP Nasdem, Jakarta, beberapa hari lalu. Pertemuan itu lalu dikaitkan dengan rencana koalisi kedua parpol di Pemilu 2014. Bagaimana tanggapan Ical?


"Belum ada ke sana (koalisi). Kemungkinan tetap ada," kata Ical sebelum acara buka puasa bersama dengan keluarga besar Partai Golkar di Kantor DPP Golkar, Jakarta, Jumat (12/7/2013).

Ical mengatakan, kedatangannya ke DPP Nasdem untuk memenuhi undangan silatuhrahim. Sebagai umat Islam, kata dia, diwajibkan untuk silatuhrahim agar panjang umur dan banyak rezeki, apalagi silatuhrahim di bulan puasa.

Jika pertemuan itu dikaitkan dengan politik 2014, Ical memilih tak berkomentar. "Saat ditanya apakah mungkin (berkoalisi), jawabnya mungkin. Apakah pasti, jawabnya belum pasti," ucap bakal calon presiden dari Golkar tersebut.
Ical menambahkan, dalam demokrasi, semua parpol tidak mungkin bisa berjalan sendiri. Pihaknya masih menunggu hasil Pileg 2014. Jika hasil pileg ternyata Golkar mampu mengusung capres-cawapres sendiri, kata Ical, belum tentu Golkar tidak berkoalisi.

"Seperti Partai Demokrat menang 21 persen (Pemilu 2009 ). Beliau (Susilo Bambang Yudhoyono) memutuskan sendiri wakilnya Bapak Boediono. Tetapi, Presiden memutuskan berkoalisi dengan yang lain kan," pungkas Ical.

Seperti diberitakan, awalnya Ical dan Surya Paloh sama-sama di Golkar. Setelah 43 tahun berada di Golkar, Surya lalu keluar. Keputusan keluar itu setelah membentuk organisasi masyarakat Nasional Demokrat disusul Partai Nasdem.



Idrus: Ada Kesepakatan Politik Ical-Surya Paloh


Idrus: Ada Kesepakatan Politik Ical-Surya Paloh

Penulis :
Sandro Gatra
Jumat, 12 Juli 2013 | 20:34 WIB

Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh berbincang-bincang dengan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakri alias Ical di Kantor DPP Partai Nasdem, Rabu (10/9/2013). | DIAN MAHARANI

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar Idrus Marham mengakui ada kesepakatan politik dalam pembicaraan antara Ketua Umum DPP Golkar Aburizal Bakrie alias Ical dengan Ketua Umum DPP Partai Nasdem Surya Paloh. Hanya, kata Idrus, perlu ada pembahasan lanjutan untuk mencapai kesepakatan tersebut.

"Pertemuan itu pasti memiliki arti politik. Di samping karena persahabatan (Ical-Surya), tentu ada pembicaraan ke depan. Ini baru awal. Perlu berkali-kali bertemu untuk mencapai kesepakatan-kesepakatan itu," kata Idrus seusai acara buka puasa bersama di Kantor DPP Golkar, Jakarta, Jumat ( 12/7/2013 ) malam.

Hal itu dikatakan Idrus ketika dimintai tanggapan pertemuan Ical-Surya saat acara buka puasa bersama di Kantor DPP Nasdem beberapa waktu lalu.
Idrus berpendapat, melihat latar belakang Surya yang lama di Golkar, sudah semestinya Surya memilih berkoalisi dengan Golkar. Hanya, pihaknya juga akan terus berkomunikasi dengan parpol lain.

"Kita harus komunikasi dengan siapa saja. Kita mengalir saja komunikasi karena kita yakin Indonesia tidak akan berhasil kalau dikuasai satu golongan. Karena itu kita komunikasi dengan Demokrat, PDIP, Nasdem, PPP, PKS, semua kita lakukan apapun posisi politik kita," kata Idrus.


Ketika ditanya apakah komunikasi menyangkut calon wakil presiden yang akan mendampingi Ical di Pilpres 2014, Idrus menjawab belum ada pembicaraan tersebut dengan parpol lain. Berdasarkan hasil Rapimnas Golkar tahun 2012, Ical diberi kewenangan menetapkan sendiri pendamping.

Saturday, February 16, 2013

Ada Upaya Sistematis Hancurkan Partai NasDem


Sabtu, 16 Februari 2013 , 15:36:00

ADA UPAYA SISTEMATIS 
HANCURKAN PARTAI NasDem
Surya Paloh

JAKARTA - Menyikapi konstelasi politik di internal Partai NasDem beserta organisasi sayapnya, DPP Garda Pemuda (GP) NasDem menilai ada politik yang sistematis dilakukan pihak-pihak tertentu untuk menghancurkan Partai NasDem menjelang Pemilu 2014.

Oleh karena itu, GP NasDem siap menjadi garda terdepan dalam menjaga serta mengawal Partai NasDem dari berbagai upaya penghancuran tersebut.  

“Garda Pemuda NasDem siap menjadi garda terdepan dalam menjaga serta mengawal gerakan perubahan yang diusung oleh Partai NasDem, sehingga tidak akan memberikan sedikitpun tempat bagi para musuh rakyat untuk berada dalam gerbong gerakan perubahan restorasi Indonesia,” kata Ketua Umum DPP GP NasDem Martin Manurung dalam keterangan persnya kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (16/2).


Martin Manurung mengatakan, salah satu upaya politik sistematis untuk menghancurkan Partai NasDem itu adalah fenomena mundurnya sejumlah pengurus, kader partai dan organisasi sayap lainnya dari gerbong partai. Upaya ini tidak lain sebagai bentuk provokasi yang dilakukan oleh pihak-pihak yang merasa sakit hati dari para pengadu nasib politik.


“Gerakan perubahan restorasi Indonesia tidak akan berhenti hanya karena munculnya gerakan sakit hati dari para pengadu nasib politik di republik ini,” jelasnya.

Menyikapi kondisi ini, kata Martin Manurung, DPP GP NasDem menyerukan dan menginstruksikan kepada seluruh struktur garda pemuda di semua tingkatan untuk bersatu mengawal Partai NasDem dari kepentingan-kepentingan pragmatis serta upaya provokasi yang berpotensi memecah-belah soliditas organisasi.

“Karena pengunduran diri beberapa pengurus DPW GP NasDem kami ketahui telah direncanakan secara sistematis oleh para petualang politik, kami hanya bisa menyampaikan kepada mereka bahwa benih yang tidak sempurna akan punah sebelum berbuah,” katanya.


Terkait mundurnya Hendrik Kawilarang Luntungan selaku ketua dan sejumlah pengurus DPW GP NasDem Sulawesi Utara, lanjut Martin Manurung, DPP GP NasDem telah menerima permohonan pemberhentian tersebut.   

Pemunduran diri mereka sekaligus merupakan momentum untuk memurnikan organisasi dari hasutan-hasutan yang hendak memecah-belah serta tindakan pemaksaan kehendak yang mereka lakukan selama ini.


“DPP telah menunjuk Ivanhoe Semen selaku Ketua Bidang I DPP GP NasDem sebagai Pelaksana Tugas  Ketua DPW GP NasDem Sulawesi Utara untuk menjalankan kepemimpinan sehari-hari di sana sampai terpilihnya ketua DPW yang baru,” ujarnya. (sam/jpnn)


 
http://www.jpnn.com/read/2013/02/16/158719/Ada-Upaya-Sistematis-Hancurkan-Partai-NasDem-

Friday, February 8, 2013

SUSUNAN LENGKAP PENGURUS PARTAI NASDEM



SUSUNAN LENGKAP PENGURUS PARTAI NASDEM


Surya Paloh


Surya Paloh resmi melantik pengurus partai NasDem sore ini. Dari susunan pengurus partai NasDem sebagian ada yang merupakan tokoh politik lawas namun ada juga yang wajah baru.

Tak hanya politisi, purnawirawan TNI dan Polri, pengamat juga ada yang duduk di kursi pengurus NasDem. Pelantikan sendiri dilakukan langsung oleh Ketua DPP NasDem Surya Paloh.

"Sebelum saya kukuhkan apa saudara bersedia?," tanya Surya kepada puluhan hadirin di Kantor NasDem, Jumat (8/2).

"Bersedia," ujar mereka bersamaan. "Dengan mengucapkan bismillah, saya sebagai ketua umum saya kukuhkan untuk periode 2013-2018," katanya.

Berikut daftar pengurus Partai NasDem:

I. Dewan Pimpinan Pusat Partai Nasdem

1. Ketua Umum:
 Surya Paloh
2. Sekretaris Jenderal: Patrice Rio Capela.
3. Wakil Sekjen Bidang Organisasi dan Keanggotaan: Willy Aditiya.
4. Wasekjen Bidang Internal dan Kesekrtariatan: Nining Indra Saleh.
5. Wsekjen Bidang Renlitbang: Dedy Ramanta.
6. Wasekjen Bidang Internal: Siar Anggraini Siagiar.
7. Bendahara Umum: Frankie Turtan
8. Waben penggalangan Dana: Guntur Santosa.
9. Waben Pengelolaan Aset: Joice Triatman.
10.Ketua Bappilu: Ferry M. Baldan.
11.Ketua Bidang Media Komunikasi Publik: Sugeng Suparwoto.
12.Ketua Bidang Politik dan Kebudayaan: Siverius Sonny
13.Ketua Bidang Politik dan Pemerintahan:
 Akbar Faizal.
14.Ketua Bidang Hukum Advokasi dan Ham: Taufik Basari.
15.Ketua Bidang Otonomi Daerah: Siti Nurbaya Bakar
16.Ketua Bidang Pertanian dan Maritim: Victor Laiskodat
17.Ketua Bidang Pertahanan dan Keamanan: Laks (Purn) Tedjo Edly
18.Ketua Bidang Energi SDA dan Lingkungan Hidup: Kurtubi
19.Ketua Agama dan Masyarakat Adat: Hasan Aminudin
20.Ketua Bidang Hubungan dan Luar Negeri: Enggartiasto Lukita
21.Ketua Bidang Ekonomi dan Moneter: Anthony Budiawan
22.Ketua Bidang Kesehatan Permpuan dan Anak: Irmas Chaniago
23.Ketua Bidang Industri Perdangan dan Tenaga Kerja: Zulfan Lindan
24.Ketua Bidang Olah Raga dan Mahasiswa: Martin Manurung.

II. Majelis tinggi partai
1. Jan Darmadi
2. Lestari Moerdijat
3. Djaffar Assegaff
4. Teuku Bahri Anwar
5. Karli Bonjamin

III. Mahkamah konstitusi
1. O.C Kaligis
2. Prahastoeti Adhitama
3. I.G.K Manila
4. Effendi Syahputra
5. Prasetyo
6. Lalu Sudarmadi

IV Dewan Pertimbangan Partai Nasdem

Ketua: Endriartono Sutarto
Anggota: Rahmawati Soekarnoputri, Barnabas Suebu, Soleh Solahuddin, Thomas Suyatno, Tarnama Sinambela, Wegie Ruslan, Teddy Setiawan, MTH Pardede, Tata Susilo Gunawan, Marcela Supardan, Permana Agung, Mayjen TNI (Purnawirawan) Supiadin, Ampi Tanujiwa, Irjen (purn) Edward Aritonang, Irjen (Purn) Abubakar Nataprawira, Ginar Michael Manufandu, M Hatta Mustofa, Elman Saragih, Samuel Matulesi, Soekartono Hadiwarsito, Faisal Riza Yunus, Yopi Sangkot Batubara dan Jhon Tabo.


V Dewan Pakar Nasdem

Ketua: Bactiar Aly.
Anggota : Rady A Gani, Ratlan Pardede, Yusherman, Danes Jaya Negara, Daniel Kameo, Elwin Tobing, Murasa Sarkaniputra, Jeffrie Wurangian, Abdul Malik, Yohanes Sinungan, Richard Daulay, Munawar Fuad, Prio Mendung Thalib, Rino Wicaksono, Bambang Khaironi, Pamela Johanna, Bambang Suroso, Taufiqulhadi, Galumbang Sitinjak, Marthen Katte Patiung, Tutiek Setyomurni, Hari Tanjung, Fatimah.

http://www.merdeka.com/politik/ini-susunan-lengkap-pengurus-partai-nasdem.html

Saturday, January 26, 2013

Surya Paloh: Nasdem Siap Kompetisi dalam Harmoni


Surya Paloh: Nasdem Siap Kompetisi dalam Harmoni

Penulis : Sabrina Asril | Sabtu, 26 Januari 2013 | 22:44 WIB



JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh menyatakan partainya siap berkompetisi dalam Pemilu 2014 mendatang. Namun, kompetisi itu harus berlangsung harmoni tanpa melukai satu sama lain. Hal tersebut diungkapkannya dalam pidato penutupan Partai Nasdem, Sabtu (26/1/2013), di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan.

"Di dalam perspektif saya inilah yang saya nyatakan Nasdem siap berkompetisi dalam harmoni," ucap Surya Paloh yang langsung disambut tepuk tangan ribuan kader Nasdem yang menghadiri seremoni penutupan kongres kali ini.

Menurut Surya Paloh, kompetisi seharusnya dilakukan dengan tidak saling menyakiti atau menjatuhkan tetapi dalam hal yang membanggakan. "Berkompetisi tidak seharusnya saling melukai atau saling menghina, menjatuhkan tapi bisa berkompetisi yang saling membanggakan," ujar Surya Paloh.

Inisiator organisasi massa Nasional Demokrat itu mengajak kepada para pemegang kekuatan partai politik ini untuk memberikan suasana kondusif dalam menghadapi Pemilu. "Ketika semangat kebersamaan ditinggalkan, kita mulai terprovokasi untuk saling berhadapan antara kita. Dunia luar akan menertawakan kita. Seandainya parpol sadari dan ciptakan solidaritas, maka persatuan dan kesatuan juga terjalin," katanya.

Pemilik Media Grup ini juga menilai kritikan terhadap partai politik seharusnya diterima sebagai bentuk kehormatan. "Berangkat dari malam ini, kami juga menawarkan tidak hanya tegur sapa dalan verbal formal tapi dalam kritik yang membangun," imbuh Surya Paloh.

Editor :
A. Wisnubrata
http://nasional.kompas.com/read/2013/01/26/22444328/Surya.Paloh.Nasdem.Siap.Kompetisi.dalam.Harmoni utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=Dinamika%20Partai%20Nasdem



Monday, January 21, 2013

Hary Tanoe: Saya Mundur dari Partai Nasdem

Hary Tanoesoedibjo

Hary Tanoe: Saya Mundur dari Partai Nasdem
Penulis : Sabrina Asril | Senin, 21 Januari 2013 | 15:01 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Dewan Pakar DPP Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Hary Tanoesoedibjo menyatakan mundur dari keanggotaan Partai Nasdem. Hal itu disampaikannya secara resmi dalam jumpa pers, Senin (21/1/2013), di Jakarta.

"Saya menyatakan mundur dalam kapasitas saya sebagai Ketua Dewan Pakar. Mulai hari ini, saya bukan lagi anggota dari Partai Nasdem. Keputusan ini saya lakukan dengan berat hati," kata Hary. 

Ia menyatakan, sejak bergabung dengan Partai Nasdem pada 9 Oktober 2011, Hary merasa telah melakukan upaya terbaik, baik energi, pikiran, dana, maupun risiko, untuk berpartisipasi membesarkan Partai Nasdem. "Target utamanya lolos verifikasi dan lolos sebagai partai peserta pemilu. Saya merupakan bagian yang ikut meloloskan Nasdem," kata bos MNC Grup ini.

"Keputusan saya ini tidak mengenakkan, tapi pada satu titik saya harus memutuskan ini. Aktivitas politik harus tetap dijalankan. Destiny keterlibatan saya di politik adalah menjadi bagian dari perubahan untuk bangsa Indonesia menjadi lebih baik. Saya ingin ikut andil secara nyata, langsung. Karena bagaimanapun politik menjadi satu bagian ideologi dan bagian dari masa depan kita," papar Hary.

Perpecahan di tubuh Nasdem mulai merebak ketika beredar kabar adanya faksi di dalam partai itu. Dikabarkan, Surya Paloh yang akan menjadi ketua umum partai itu berseberangan dengan faksi Hary Tanoe. Beberapa waktu lalu, kelompok Surya Paloh memecat Sekjen Garda Pemuda Nasional Demokrat (GPND), Saiful Haq.


http://nasional.kompas.com/read/2013/01/21/15011526/Hary.Tanoe.Saya.Mundur.dari.Partai.Nasdem?utm_source=WP&utm_medium=Ktpidx&utm_campaign=Perpecahan%20Di%20Partai%20Nasdem


Friday, January 11, 2013

Partai NasDem Pecah?


Nasdem Pecah? Saiful Haq cs Jadi Korban

Gejolak perpecahan di tubuh Partai Nasional Demokrat bukan isapan jempol. Sekretaris Jenderal Garda Pemuda Nasional Demokrat (GPND) Saiful Haq dipecat. Pemecatan tertuang dalam surat keputusan 1/SE/DPP-GPND/I/2013, yang dikeluarkan setelah DPP Garda Pemuda Nasional Demokrat menggelar rapat pleno pada Selasa (8/1) kemarin. Pemecatan disebut-sebut dipicu konflik Surya Paloh dengan Hary Tanusoedibjo.

Dalam SK yang sama juga disebutkan, pengunduran diri Rizky Aprilia sebagai Ketua Garda Pemuda DKI Jakarta diterima dan pembekuan kepengurusan Garda Pemuda DKI Jakarta.


Saiful menolak pemecatan sepihak tersebut. Penolakan dia ungkapkan dalam tulisannya berjudul "Memenangkan Hukum dan Akal Sehat: Sebuah Demarkasi (Garis Pemisah) Ideologi-Politik-Organisasi" yang dimuat di situs http://gardapemudanasdem.org. Dalam tulisan yang diupload kemarin itu dia menumpahkan catatannya secara kritis-filosofis atas kepemimpinan Ketum GPND Martin Manurung selama ini.


"Tuduhan-tuduhan dan asumsi yang dijadikan dasar pemberhentian kami tidak didasari oleh fakta, semua hanya berdasarkan 'gosip' yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab," ungkapnya.



Menurut Syaiful Haq, dirinya tidak pernah diberikan kesempatan untuk mengklarifikasi dan hak pembelaan diri terkait tuduhan yang dialamatkan. Padahal, sesuai Peraturan Dasar Pasal 13 klarifikasi dan pembelaan merupakan hak anggota. "Bahkan dalam rapat pleno yang memutuskan keputusan tersebut, kami tidak diundang dan diberi kesempatan untuk melakukan klarifikasi," kesalnya.


Celakanya, sebut dia, dalam Surat Edaran DPP Garda Pemuda No. 001/SE/DPP-GPND/I/2013, tidak disebutkan pasal apa yang telah dilanggar. Mereka hanya dituduh melakukan “insubordinasi.” 



"Sejak kapan “ketundukan” pada seorang Ketua Umum menjadi ukuran bersalah tidaknya seorang kader. Dan sejak kapan seorang Ketua Umum menjadi tuhan yang tidak boleh terbantahkan dalam segala hal? Ini adalah pembungkaman terhadap suara-suara yang berbeda dalam organisasi," tegasnya lagi.



"Apa yang terjadi pada kami, adalah bentuk arogansi kekuasan DPP, dan merupakan pembangkangan aturan organisasi, dan tentu kami menolak keputusan tersebut. Apa yang terjadi pada kami adalah preseden buruk dalam tradisi berorganisasi, aturan organisasi dikesampingkan untuk memenuhi ambisi kekuasaan pihak tertentu.


Friday, January 4, 2013


January 03, 2013


Surya Paloh
Nasdem Chair Shuts Down Speculation of Rift Between Surya and Hary
Ezra Sihite, SP/Robertus Wardi & Markus Junianto Sihaloho

The National Democratic Party has denied talks of a rift between its two most high-profile officials, following speculation that an ongoing power grab could cripple the party’s ambitious plans for a strong showing in its electoral debut next year.

Patrice Rio Capella, the chairman of the party known as Nasdem, refuted on Wednesday all rumors of a rift between Surya Paloh and Hary Tanoesoedibjo.

“There is no rift. All our members are concentrating on winning the [2014 legislative] election,” Rio said.

Any talk of a split, he added, “is a lie.”

Surya, a former Golkar Party stalwart and owner of Metro TV and the Media Indonesia broadsheet, founded the National Democrat social organization from which the party originated.

Hary serves as chairman of the party’s board of advisers. He was named by Forbes as the 29th richest person in the country last November, thanks in large part to his ownership of the Media Nusantara Citra conglomerate.

Although Hary joined the party on Surya’s invitation several months after it was established, observers say he has now overtaken the co-founder as the dominant force behind Nasdem.

Speculation is mounting that he is seeking to consolidate his power over the party as part of a rivalry with Surya, who has increasingly been replaced by Hary as the public face of the party over the past year.

A source inside the party told the Jakarta Globe that Hary was “slowly but surely” squeezing Surya out.

“Hary seems to want to control Nasdem. We don’t know yet what his target is. Perhaps there’s someone behind him, maybe the Cendana clan,” the source said, referring to the family of the late Suharto.

The source warned that the rift could hurt the party in the 2014 legislative election, the first poll the party will be eligible for since its establishment in 2011, and one in which it is seeking to win 31 percent of votes.

The ruling Democratic Party, which won the most votes in the 2009 poll, managed just 20.8 percent back then.

The Nasdem source said that since Hary joined the party in November 2011, he had appointed his own people to key posts within the organization, making it increasingly difficult for Surya to have a say.

Arya Fernandez, an analyst with the Charta Politika, said last week that the biggest challenge facing the party ahead of the election was to prevent a split between its two figureheads. “If that happens, Nasdem will quickly wilt before it even has the chance to blossom,” he said.



Wednesday, October 31, 2012

Partai NasDem Lolos Verifikasi KPU

Partai NasDem

Jakarta - Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyatakan 16 partai politik (Parpol) lolos verifikasi administrasi. Sedangkan, 18 partai politik lainnya dinyatakan tidak lolos oleh KPU. Dasar dari putusan itu adalah Peraturan KPU no 7 dan 8 tentang penetapan dan tahapan.

"Bagi partai yang lolos akan dilakukan verifikasi faktual. KPU akan diperiksa secara fisik sesuai perundang-undagan. Besok, tim yang beranggotakan 33 orang akan melaksanakannya (verifikasi faktual)," kata Ketua KPU Husni Kamil Manik dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Minggu (28/10/2012).

Berikut adalah parpol yang dinyatakan KPU memenuhi syarat administrasi:
1.    Partai Nasional Demokrat (Nasdem)
2.    Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)
3.    Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
4.    Partai Bulan Bintang (PBB)
5.    Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)
6.    Partai Amanat Nasional (PAN)
7.    Partai Golongan Karya (Golkar)
8.    Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
9.    Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)
10.    Partai Demokrasi Pembaruan (PDP)
11.    Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI)
12.    Partai Demokrat
13.    Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
14.    Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB)
15.    Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN)
16.    Partai Persatuan Nasional (PPN)

Sedangkan, parpol yang dinyatakan tidak memenuhi syarat administrasi oleh KPU berjumlah 18 parpol. Dengan demikian, kedelapanbelas parpol tersebut dipastikan tidak dapat berlaga di pemilu 2014. Parpol-parpol itu adalah:
1.    Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK)
2.    Partai Kesatuan Demokrasi (PKDI)
3.    Partai Kongres
4.    Partai Serikat Rakyat Independen (SRI)
5.    Partai Karya Republik (Pakar)
6.    Partai Nasional Republik (Nasrep)
7.    Partai Buruh
8.    Partai Damai Sejahtera (PDS)
9.    Partai Republika Nusantara
10.    PNI Marhaenisme
11.    Partai Karya Peduli Bangsa (PKBP)
12.    Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI)
13.    Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU)
14.    Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI)
15.    Partai Republik
16.    Partai Kedaulatan
17.    Partai Bhineka Indonesia
18.    Partai Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia (PNBKI)

Sunday, October 21, 2012

Golkar dan Nasdem Berpotensi Curi Pemilih Demokrat


TEMPO.CO, Jakarta - Sebagian pemilih Partai Demokrat pada Pemilu 2009 ternyata tak tertarik lagi memilih partai besutan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini pada Pemilu 2014. Dalam survei yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting, sekitar 20 persen dari pemilih Demokrat dimungkinkan akan berpindah haluan.

Peneliti pada SMRC, Grace Natali, mengatakan, berdasarkan survei terhadap 1.219 pemilih, hanya 8 persen yang menyatakan akan memilih Demokrat. Padahal, dalam Pemilu 2009, partai berlambang segitiga mercy ini meraup 21 persen suara. "Dua puluh persen pemilih Demokrat pada Pemilu 2009 belum memutuskan memilih partai mana," kata Grace, dalam rilis survei Kecenderungan Swing Voter Pemilih Partai Menjelang Pemilu 2014, Ahad, 14 Oktober 2012.


Survei dilakukan SRMC pada 5-16 September lalu dengan bertatap muka. Satu pewawancara bertugas menangani satu kelurahan atau desa dengan 10 responden. Sampel dipilih dengan metode acak bertingkat. Sedangkan kesalahan margin diperkiran 3 persen, dengan tingkat kepercayaan 95 persen.


Menurut Grace, jika pemilu dilakukan sekarang, partai yang paling besar mencuri pemilih Demokrat pada Pemilu 2009 adalah Golkar, dengan perkiraan 12 persen. Partai Nasional Demokrat turut mencuri dengan perolehan 8 persen suara, sedangkan Gerindra 7 persen. PDIP juga kecipratan 6 persen pemilih Demokrat.

Larinya pemilih dari Demokrat ini, kata Grace, disebabkan oleh hilangnya kepercayaan publik terhadap janji-janji pemberantasan korupsi yang diusung partai saat pertama didirikan. Maraknya kasus korupsi yang melibatkan petinggi Demokrat ini dinilai menjadi penyumbang terbesar penurunan suara partai.

Anggota Dewan Pembinan Partai Demokrat, Hayono Isman, mengakui persoalan korupsi telah menggerus sebagain besar pemilih Demokrat. Dia mengatakan partainya kini terus mengupayakan solusi yang pas untuk mengembalikan suara partai. "Kami akan mencari cara yang baik dan juga benar."

Hayono menyadari, maraknya pemberitaan media terhadap kasus yang menyeret petinggi partainya telah menjadi berkah bagi partai lain. Namun dia tak menyalahkan masifnya berita media. "Ini resiko kami sebagai pemenang pemilu. Ini adalah cobaan paling berat setelah dengan susah payah kami bangun partai dan berangkat dari bawah.

Thursday, October 18, 2012

Partai NasDem Fokus di Pemilihan Legislatif

Ferry Mursyidan Baldan
Metrotvnews.com, Jakarta: Partai NasDem terus melakukan proses pemantauan dan   membidik  figur (talent scouting), atau orang-orang yang memiliki potensi untuk dimajukan dalam pemilu legislatif. Partai NasDem ingin fokus pada pemilu legislatif dan tidak ingin terjebak pada wacana pencapresan.

"NasDem menyadari bahwa masih terlalu banyak figur anak bangsa yang memiliki integritas dan kabilitas untuk mengemban tugas negara melalui jabatan-jabatan publik, termasuk menjadi Anggota DPR dan DPRD," kata Ketua Bappilu Partai NasDem Ferry Mursyidan Baldan, Jakarta, Kamis (18/10).


Ferry mengatakan, selama ini ada kesan 'tertutup' dalam proses rekrutmen figur yang dilakukan partai. Ini, lanjutnya, akan menjauhkan kesempatan bagi partai politik dalam mendapatkan figur-figur bagus, berintegritas dan kapabel.


"Untuk itulah, NasDem tidak akan segan-segan untuk menemui, mendatangi ataupun mengajak figur-figur tersebut untuk dapat dicalonkan oleh Partai NasDem," tukas Ferry.


Dalam pandangan NasDem, lanjutnya, partai berkewajiban untuk hadirkan sosok berintegritas dan kapabel. "Untuk itu maka menjadi kewajiban NasDem untuk pro-aktif, dan tidak meminta yang bersangkutan mendatangi kantor-kantor NasDem. Justru NasDem yang akan mendatangi figur-figur tersebut," kata Ferry.


Karena itulah, tambah Ferry, dalam proses rekutmen, Partai NasDem tidak memberlakukan syarat apapun, termasuk meminta uang untuk alasan apapun. "Cukup dengan CV atau riwayat hidup saja," tegasnya.


Ferry mengatakan, jika ada yang terbukti memberlakukan syarat tertentu dalam penjaringan caleg, akan ada sanksi yang akan dikenakan. "Dan yang meminta uang dalam proses pencalegan harus mengembalikan kepada yang bersangkutan," tukasnya.


Ferry mengatakan, Partai NasDem ingin memulai dengan jalan yang benar. "Karena NasDem menyadari bahwa proses rekrutmen oleh partai adalah hulu dari baik atau tidaknya figur yang akan mengisi jabatan yang berpengaruh pada kemajuan negeri ini," katanya.


Oleh karena itu, hal-hal yang berkaitan dengan penjaringan caleg dan lainnya, akan secara ketat diberlakukan sejak awal oleh Partai NasDem."


NasDem menyadari bahwa negeri ini akan dan harus menjadi lebih baik, dan semua ini dilakukan tidak secara sendiri oleh NasDem, tapi juga dengan partisipasi masyarakat luas sebagai pemilik Negeri ini," ujar Ferry.


Atas dasar itu juga, agenda politik Partai NasDem, tetap menyesuaikan dengan tahapan verifikasi yang sedang berlangsung di KPU. "Kita fokus pada agenda prioritas, yakni Pemilu legislatif, dan tidak terbawa pada agenda politik lainnya, seperti membahas Capres," tegas Ferry.(MI/DNI)

Monday, June 25, 2012

Partai Nasdem:
Modal Caleg Rp 5-10 M, di gagas Surya Paloh



Ferry Mursyidan Baldan

Jakarta Partai Nasdem mengungkap penggagas pemberian dana modal Caleg Rp 5-10 miliar. Penggagasnya tak lain adalah mantan anggota Dewan Pertimbangan Golkar, Surya Paloh.

"Berkaitan dengan gagasan untuk mensupport pembiayaan caleg oleh Partai Nasdem, sesungguhnya hal ini berkembang dari gagasan seorang Surya Paloh yang melontarkan kehendak untuk terbebasnya proses politik dari pola transaksional, khususnya dalam hal rekrutmen," kata Ketua Bapilu Partai Nasdem, Ferry Mursyidan Baldan, kepada detikcom, Selasa (12/6/2012).

Dalam pandangan Surya Paloh, Ferry memaparkan, ada sesuatu yang salah dan keliru dalam proses perekrutan partai politik. Menurut Ferry, Surya Paloh tidak setuju jika partai politik yang diberi kewenangan luar biasa oleh konstitusi dan Undang-undang untuk melakukan rekrutmen dalam mengisi jabatan publik, memberlakukan praktek transaksional, apalagi sampai 'memasang' tarif dalam jumlah tertentu.

"Untuk itulah, diinternal partai berlangsung pembahasan tentang bagaimana Partai Nasdem bisa menghilangkan pola transaksional dalam proses politik. Kondisi ini sebenarnya menjadi tantangan dan agenda semua parpol dan politisi, atau bisa disebut sebagai 'agenda kolektif', yang harus dilakukan oleh semua pihak, khususnya parpol dan politisi," tutur Ferry.

Ferry menambahkan, dalam perbincangan di internal Partai Nasdem juga muncul semangat dan tekad untuk memulai upaya perbaikan dan pemulihan citra parpol dan politisi yang sedang terpuruk, karena tidak amanahnya para politisi, khususnya dalam hal keuangan negara.

"Karena itulah muncul dalam agenda yang berkaitan dengan agenda politik terdekat, yakni pemilu legislatif khususnya dalam rekrutmen caleg. Dengan sistem kompetisi yang lebih terbuka, maka pemilu legislatif tentu akan terjadi kompetisi tidak saja antar partai, tapi juga antar caleg, bahkan antar caleg dalam satu partai," jelas Ferry.

"Dalam konteks pemilihan yang terbuka itulah muncul gagasan bagaimana Partai NasDem menghadapi potensi konflik antar caleg dari satu partai dalam satu daerah pemilihan. Kondisi tersebut tentu akan berlangsung dalam suasana yang sangat keras, dan memungkinkan para caleg dalam satu partai melakukan upaya yang dalam bahasa umumnya dikenal sebagai 'Jeruk makan Jeruk'," tambahnya.

Dalam kondisi seperti itulah, masih menurut Ferry, partai politik harus tertantang untuk mampu mengontrol calegnya, agar dalam kampanye tidak membiarkan begitu saja 'sesuai mekanisme pasar' yang menyebabkan para caleg membutuhkan dana besar. Kondisi ini akan bertambah kusut, jika untuk menjadi caleg harus mengeluarkan sejumlah dana.

"Karena sesungguhnya, semangat yang lahir dalam internal Partai Nasdem sebagaimana gagasan yang disampaikan oleh Surya Paloh adalah memulihkan kepercayaan pada parpol dan politisi,"tandasnya.

http://news.detik.com/read/2012/06/12/160717/1939371/10/partai-nasdem-modal-caleg-rp-5-10-m-digagas-surya-paloh?9911012

Saturday, June 23, 2012

Pengurus Ormas Nasional Demokrat Wilayah Sulawesi Utara & NTT


Nasdem Jamin Sumber Dananya 
Bersih Korupsi


JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal Partai Nasdem, Ahmad Rofiq, menjamin bahwa uang yang digunakan partai untuk membiayai calon legislatif dalam menempuh Pemilu Legislatif 2014, bersih dari korupsi.

"Kita pastikan seratus persen bersih dari korupsi, tidak ada noda, tidak ada uang gelap hasil perselingkuhan elit," kata Rofiq di Jakarta, Sabtu (23/6/2012).

Partai Nasdem berencana mendanai biaya kampanye para calegnya. Masing-masing caleg akan mendapat jatah Rp 5 hingga 10 miliar untuk biaya kampanye. Total dana yang disediakan Nasdem untuk 300-an caleg mencapai Rp 3 triliun.

Rofiq tak menampik kalau sumber dana Partai Nasdem sebagian besar berasal dari pengusaha. Dia mengatakan, tidak semua pengusaha punya motif politik yang mengedepankan kepentingan usahanya. "Tapi juga mengedepankan kepentingan perubahan bangsa ini. Kelelahan dengan ekonomi yang tidak berjalan baik," ujarnya.

Ketika menyumbang, lanjut Rofiq, para pengusaha itu punya ketulusan hati. "Apa kepentingan Surya Paloh dan Hary Tanoesoedibjo membiayai ini? Kalau untuk kepentingan diri sendiri, mereka sudah cukup," ucapnya.

Nasdem dipelopori Surya Paloh, bos Media Grup. Belakangan, bergabung Bos MNC Grup Hary Tanoesoedibjo dalam partai yang mengusung slogan restorasi Indonesia itu.

Menurut Rofiq, partainya tidak membatasi jumlah dana yang boleh disumbangkan Surya Paloh dan Hary ke Nasdem. "Kalau mereka bagian dari partai, tidak terbatas," ujarnya. Dia juga tidak membantah kemungkinan Surya Paloh dan Hary mendominasi kebijakan partai nantinya.


Sunday, November 27, 2011

Jejak Politik Para Saudagar Media

Hary Tanoesoedibyo-Aburizal Bakirie-Surya Paloh-Chairul Tandjung



Opini: Bachtiar Abdullah
Nasional - Sabtu, 26 November 2011 | 21:21 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Rupert Murdoch adalah khas king maker politik di Inggris dan negeri asalnya, Australia. Di Amerika, kakek ini termasyhur menggalakkan haluan politiknya yang konservatif melalui jaringan televisi Fox News Channel. Di China, dia menjadi saudagar media yang sedang berupaya menjejakkan kaki di negara yang sangat ketat mengontrol pasar media.

Jejak langkah Murdoch adalah template yang mudah dikopi oleh mereka yang sudah punya duit di seluruh dunia, partai politik yang berkuasa atau bahkan negara.

Triliuner dadakan Hary Tanoesoedibyo rajin mengubah haluan bisnis sejak muda. Ia adalah anak muda pedagang kusen dan daun jendela semasa kuliah di Kanada dan Amerika, sembari main di Wall Street. Balik ke Indonesia, ia mendirikan perusahaan sekuritas PT Bhakti Investama bersama Titiek Soeharto.

Ia bisa memutar bisnis seperti gangsing justru pada saat turbulensi keuangan Asia Tenggara berepisentrum di Indonesia. Ia bisa meyakinkan Bambang Trihatmodjo dan trah Cendana untuk menjalankan macam-macam bisnis.
Dengan kemampuannya sebagai investment banker Hary bisa mengajak philantrofis George Soros bertemu Presiden Gus Dur. Tak lama kemudian ia mempersilakan Soros masuk ke Bhakti Investama dan mencicipi 15% saham Bahkti Investama.

Pada 2002, Bambang Tri makin sibuk dengan biduan Mayangsari, ia merelakan grup Bimantara dibeli Hary Tanoe saja. Hary Tanoe secepat kilat membuat gerakan puting beliung, dengan menggemukkan jaringan media di bawah bendera Media Nusantara Citra yang mengkongkonsolidasikan kepemilikan media elektronik televisi (RCTI, Global TV, MNC TV), radio (Sindo Radio), portal berita okezone.com dan cetak (Koran Sindo dan mengangkat anak tiri majalah Trust menjadi anaknya).

Pada Oktober kemarin, Harry Tanoe mulai “spinning” lagi, dengan memproklamirkan diri sebagai pentolan Partai Nasdem bersama hopengnya bos televisi berita pertama Metro TV dan pendiri Koran Media Indonesia, Surya Paloh. Siapa pun tahu, baik Hary Tanoe maupun Surya Paloh semula berinduk pada Kerajaan Cendana yang dikabarkan asetnya Rp150 triliun itu.
Partai Nasdem jelas berseberangan dengan Golkar yang dipimpin Aburizal Bakrie. Karena itu tidak heran bila salah satu ketua Golkar Priyo Budi Santoso seolah memuji keberanian Hary Tanoe masuk partai politik.

Padahal, di balik itu ia membaca dengan terang benderang (istilah ini disundut oleh politisi Senayan) kaitan Hary Tanoe dan Surya Paloh yang bersiap menjegal langkah Aburizal Bakrie di pemilihan Presiden mendatang.
Namun mesin politik Golkar teruji mampu bangkit setelah terpuruk pada Pemilu 1999. Golkar yang secara tradisional tidak pernah “beroposisi” dan menggalang kekuatan di pusaran partai berkuasa.

Orang pun tahu, Ketua Umum Golkar Aburizal memiliki Anteve, TV-One, VIVA news.com dan koran Surabaya Post (dahulu milik keluarga ekonom Iwan Jaya Azis). TV-One jelas head to head dengan Metro TV dalam liputannya, seperti persaingan bos mereka dalam politik. Bergandengan dengan VIVA News.com, TV-One menancapkan kuku yang kuat di pemberitaan politik, ekonomi dan olahraga.

Satu lagi. Konglomerasi media ditengarai oleh langkah gangsing Charul Tandjung dengan membeli detik.com kabarnya dengan nilai fantastis, Rp450 miliar. Pemilik detik.com lama (Abdul Rahman dan Budiono Darsono, keduanya bekas wartawan majalah TEMPO) kini ketawa-tawi menikmati duitnya dengan membeli pulau di Nusa Tenggara Barat.

Katanya, tidak ada agenda politik di balik pendirian TransTv, akuisisi Trans7, dan pembelian detik.com. Murni binis, kata sebuah sumber di grup ini, seperti pembelian jaringan Carrefour.

Media massa memiliki kapasitas membentuk opini publik. Namun ketika konflik kepentingan mencuat di dalamnya, media bisa menyuapi informasi yang dibelokkan dan bisa ditelan lahap oleh publik. Berita yang tidak berimbang akan membuat publik mengambil keputusan yang salah, karena informasinya sudah di-distorsi-kan.

Siapa yang percaya media adalah bisnis murni atawa tidak partisan? Siapa percaya Murdoch bisa menahan syahwat politiknya, jadi king maker gratisan? Kekuasaan itu membuat orang ecstase dan orgasme sekaligus, tapi bisa juga membuat orang mejan sekaligus ejakulasi dini secara politik. [mdr]