Sunday, October 21, 2012

Golkar dan Nasdem Berpotensi Curi Pemilih Demokrat


TEMPO.CO, Jakarta - Sebagian pemilih Partai Demokrat pada Pemilu 2009 ternyata tak tertarik lagi memilih partai besutan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini pada Pemilu 2014. Dalam survei yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting, sekitar 20 persen dari pemilih Demokrat dimungkinkan akan berpindah haluan.

Peneliti pada SMRC, Grace Natali, mengatakan, berdasarkan survei terhadap 1.219 pemilih, hanya 8 persen yang menyatakan akan memilih Demokrat. Padahal, dalam Pemilu 2009, partai berlambang segitiga mercy ini meraup 21 persen suara. "Dua puluh persen pemilih Demokrat pada Pemilu 2009 belum memutuskan memilih partai mana," kata Grace, dalam rilis survei Kecenderungan Swing Voter Pemilih Partai Menjelang Pemilu 2014, Ahad, 14 Oktober 2012.


Survei dilakukan SRMC pada 5-16 September lalu dengan bertatap muka. Satu pewawancara bertugas menangani satu kelurahan atau desa dengan 10 responden. Sampel dipilih dengan metode acak bertingkat. Sedangkan kesalahan margin diperkiran 3 persen, dengan tingkat kepercayaan 95 persen.


Menurut Grace, jika pemilu dilakukan sekarang, partai yang paling besar mencuri pemilih Demokrat pada Pemilu 2009 adalah Golkar, dengan perkiraan 12 persen. Partai Nasional Demokrat turut mencuri dengan perolehan 8 persen suara, sedangkan Gerindra 7 persen. PDIP juga kecipratan 6 persen pemilih Demokrat.

Larinya pemilih dari Demokrat ini, kata Grace, disebabkan oleh hilangnya kepercayaan publik terhadap janji-janji pemberantasan korupsi yang diusung partai saat pertama didirikan. Maraknya kasus korupsi yang melibatkan petinggi Demokrat ini dinilai menjadi penyumbang terbesar penurunan suara partai.

Anggota Dewan Pembinan Partai Demokrat, Hayono Isman, mengakui persoalan korupsi telah menggerus sebagain besar pemilih Demokrat. Dia mengatakan partainya kini terus mengupayakan solusi yang pas untuk mengembalikan suara partai. "Kami akan mencari cara yang baik dan juga benar."

Hayono menyadari, maraknya pemberitaan media terhadap kasus yang menyeret petinggi partainya telah menjadi berkah bagi partai lain. Namun dia tak menyalahkan masifnya berita media. "Ini resiko kami sebagai pemenang pemilu. Ini adalah cobaan paling berat setelah dengan susah payah kami bangun partai dan berangkat dari bawah.

Thursday, October 18, 2012

Partai NasDem Fokus di Pemilihan Legislatif

Ferry Mursyidan Baldan
Metrotvnews.com, Jakarta: Partai NasDem terus melakukan proses pemantauan dan   membidik  figur (talent scouting), atau orang-orang yang memiliki potensi untuk dimajukan dalam pemilu legislatif. Partai NasDem ingin fokus pada pemilu legislatif dan tidak ingin terjebak pada wacana pencapresan.

"NasDem menyadari bahwa masih terlalu banyak figur anak bangsa yang memiliki integritas dan kabilitas untuk mengemban tugas negara melalui jabatan-jabatan publik, termasuk menjadi Anggota DPR dan DPRD," kata Ketua Bappilu Partai NasDem Ferry Mursyidan Baldan, Jakarta, Kamis (18/10).


Ferry mengatakan, selama ini ada kesan 'tertutup' dalam proses rekrutmen figur yang dilakukan partai. Ini, lanjutnya, akan menjauhkan kesempatan bagi partai politik dalam mendapatkan figur-figur bagus, berintegritas dan kapabel.


"Untuk itulah, NasDem tidak akan segan-segan untuk menemui, mendatangi ataupun mengajak figur-figur tersebut untuk dapat dicalonkan oleh Partai NasDem," tukas Ferry.


Dalam pandangan NasDem, lanjutnya, partai berkewajiban untuk hadirkan sosok berintegritas dan kapabel. "Untuk itu maka menjadi kewajiban NasDem untuk pro-aktif, dan tidak meminta yang bersangkutan mendatangi kantor-kantor NasDem. Justru NasDem yang akan mendatangi figur-figur tersebut," kata Ferry.


Karena itulah, tambah Ferry, dalam proses rekutmen, Partai NasDem tidak memberlakukan syarat apapun, termasuk meminta uang untuk alasan apapun. "Cukup dengan CV atau riwayat hidup saja," tegasnya.


Ferry mengatakan, jika ada yang terbukti memberlakukan syarat tertentu dalam penjaringan caleg, akan ada sanksi yang akan dikenakan. "Dan yang meminta uang dalam proses pencalegan harus mengembalikan kepada yang bersangkutan," tukasnya.


Ferry mengatakan, Partai NasDem ingin memulai dengan jalan yang benar. "Karena NasDem menyadari bahwa proses rekrutmen oleh partai adalah hulu dari baik atau tidaknya figur yang akan mengisi jabatan yang berpengaruh pada kemajuan negeri ini," katanya.


Oleh karena itu, hal-hal yang berkaitan dengan penjaringan caleg dan lainnya, akan secara ketat diberlakukan sejak awal oleh Partai NasDem."


NasDem menyadari bahwa negeri ini akan dan harus menjadi lebih baik, dan semua ini dilakukan tidak secara sendiri oleh NasDem, tapi juga dengan partisipasi masyarakat luas sebagai pemilik Negeri ini," ujar Ferry.


Atas dasar itu juga, agenda politik Partai NasDem, tetap menyesuaikan dengan tahapan verifikasi yang sedang berlangsung di KPU. "Kita fokus pada agenda prioritas, yakni Pemilu legislatif, dan tidak terbawa pada agenda politik lainnya, seperti membahas Capres," tegas Ferry.(MI/DNI)

Monday, June 25, 2012

Partai Nasdem:
Modal Caleg Rp 5-10 M, di gagas Surya Paloh



Ferry Mursyidan Baldan

Jakarta Partai Nasdem mengungkap penggagas pemberian dana modal Caleg Rp 5-10 miliar. Penggagasnya tak lain adalah mantan anggota Dewan Pertimbangan Golkar, Surya Paloh.

"Berkaitan dengan gagasan untuk mensupport pembiayaan caleg oleh Partai Nasdem, sesungguhnya hal ini berkembang dari gagasan seorang Surya Paloh yang melontarkan kehendak untuk terbebasnya proses politik dari pola transaksional, khususnya dalam hal rekrutmen," kata Ketua Bapilu Partai Nasdem, Ferry Mursyidan Baldan, kepada detikcom, Selasa (12/6/2012).

Dalam pandangan Surya Paloh, Ferry memaparkan, ada sesuatu yang salah dan keliru dalam proses perekrutan partai politik. Menurut Ferry, Surya Paloh tidak setuju jika partai politik yang diberi kewenangan luar biasa oleh konstitusi dan Undang-undang untuk melakukan rekrutmen dalam mengisi jabatan publik, memberlakukan praktek transaksional, apalagi sampai 'memasang' tarif dalam jumlah tertentu.

"Untuk itulah, diinternal partai berlangsung pembahasan tentang bagaimana Partai Nasdem bisa menghilangkan pola transaksional dalam proses politik. Kondisi ini sebenarnya menjadi tantangan dan agenda semua parpol dan politisi, atau bisa disebut sebagai 'agenda kolektif', yang harus dilakukan oleh semua pihak, khususnya parpol dan politisi," tutur Ferry.

Ferry menambahkan, dalam perbincangan di internal Partai Nasdem juga muncul semangat dan tekad untuk memulai upaya perbaikan dan pemulihan citra parpol dan politisi yang sedang terpuruk, karena tidak amanahnya para politisi, khususnya dalam hal keuangan negara.

"Karena itulah muncul dalam agenda yang berkaitan dengan agenda politik terdekat, yakni pemilu legislatif khususnya dalam rekrutmen caleg. Dengan sistem kompetisi yang lebih terbuka, maka pemilu legislatif tentu akan terjadi kompetisi tidak saja antar partai, tapi juga antar caleg, bahkan antar caleg dalam satu partai," jelas Ferry.

"Dalam konteks pemilihan yang terbuka itulah muncul gagasan bagaimana Partai NasDem menghadapi potensi konflik antar caleg dari satu partai dalam satu daerah pemilihan. Kondisi tersebut tentu akan berlangsung dalam suasana yang sangat keras, dan memungkinkan para caleg dalam satu partai melakukan upaya yang dalam bahasa umumnya dikenal sebagai 'Jeruk makan Jeruk'," tambahnya.

Dalam kondisi seperti itulah, masih menurut Ferry, partai politik harus tertantang untuk mampu mengontrol calegnya, agar dalam kampanye tidak membiarkan begitu saja 'sesuai mekanisme pasar' yang menyebabkan para caleg membutuhkan dana besar. Kondisi ini akan bertambah kusut, jika untuk menjadi caleg harus mengeluarkan sejumlah dana.

"Karena sesungguhnya, semangat yang lahir dalam internal Partai Nasdem sebagaimana gagasan yang disampaikan oleh Surya Paloh adalah memulihkan kepercayaan pada parpol dan politisi,"tandasnya.

http://news.detik.com/read/2012/06/12/160717/1939371/10/partai-nasdem-modal-caleg-rp-5-10-m-digagas-surya-paloh?9911012

Saturday, June 23, 2012

Pengurus Ormas Nasional Demokrat Wilayah Sulawesi Utara & NTT


Nasdem Jamin Sumber Dananya 
Bersih Korupsi


JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal Partai Nasdem, Ahmad Rofiq, menjamin bahwa uang yang digunakan partai untuk membiayai calon legislatif dalam menempuh Pemilu Legislatif 2014, bersih dari korupsi.

"Kita pastikan seratus persen bersih dari korupsi, tidak ada noda, tidak ada uang gelap hasil perselingkuhan elit," kata Rofiq di Jakarta, Sabtu (23/6/2012).

Partai Nasdem berencana mendanai biaya kampanye para calegnya. Masing-masing caleg akan mendapat jatah Rp 5 hingga 10 miliar untuk biaya kampanye. Total dana yang disediakan Nasdem untuk 300-an caleg mencapai Rp 3 triliun.

Rofiq tak menampik kalau sumber dana Partai Nasdem sebagian besar berasal dari pengusaha. Dia mengatakan, tidak semua pengusaha punya motif politik yang mengedepankan kepentingan usahanya. "Tapi juga mengedepankan kepentingan perubahan bangsa ini. Kelelahan dengan ekonomi yang tidak berjalan baik," ujarnya.

Ketika menyumbang, lanjut Rofiq, para pengusaha itu punya ketulusan hati. "Apa kepentingan Surya Paloh dan Hary Tanoesoedibjo membiayai ini? Kalau untuk kepentingan diri sendiri, mereka sudah cukup," ucapnya.

Nasdem dipelopori Surya Paloh, bos Media Grup. Belakangan, bergabung Bos MNC Grup Hary Tanoesoedibjo dalam partai yang mengusung slogan restorasi Indonesia itu.

Menurut Rofiq, partainya tidak membatasi jumlah dana yang boleh disumbangkan Surya Paloh dan Hary ke Nasdem. "Kalau mereka bagian dari partai, tidak terbatas," ujarnya. Dia juga tidak membantah kemungkinan Surya Paloh dan Hary mendominasi kebijakan partai nantinya.


Sunday, November 27, 2011

Jejak Politik Para Saudagar Media

Hary Tanoesoedibyo-Aburizal Bakirie-Surya Paloh-Chairul Tandjung



Opini: Bachtiar Abdullah
Nasional - Sabtu, 26 November 2011 | 21:21 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Rupert Murdoch adalah khas king maker politik di Inggris dan negeri asalnya, Australia. Di Amerika, kakek ini termasyhur menggalakkan haluan politiknya yang konservatif melalui jaringan televisi Fox News Channel. Di China, dia menjadi saudagar media yang sedang berupaya menjejakkan kaki di negara yang sangat ketat mengontrol pasar media.

Jejak langkah Murdoch adalah template yang mudah dikopi oleh mereka yang sudah punya duit di seluruh dunia, partai politik yang berkuasa atau bahkan negara.

Triliuner dadakan Hary Tanoesoedibyo rajin mengubah haluan bisnis sejak muda. Ia adalah anak muda pedagang kusen dan daun jendela semasa kuliah di Kanada dan Amerika, sembari main di Wall Street. Balik ke Indonesia, ia mendirikan perusahaan sekuritas PT Bhakti Investama bersama Titiek Soeharto.

Ia bisa memutar bisnis seperti gangsing justru pada saat turbulensi keuangan Asia Tenggara berepisentrum di Indonesia. Ia bisa meyakinkan Bambang Trihatmodjo dan trah Cendana untuk menjalankan macam-macam bisnis.
Dengan kemampuannya sebagai investment banker Hary bisa mengajak philantrofis George Soros bertemu Presiden Gus Dur. Tak lama kemudian ia mempersilakan Soros masuk ke Bhakti Investama dan mencicipi 15% saham Bahkti Investama.

Pada 2002, Bambang Tri makin sibuk dengan biduan Mayangsari, ia merelakan grup Bimantara dibeli Hary Tanoe saja. Hary Tanoe secepat kilat membuat gerakan puting beliung, dengan menggemukkan jaringan media di bawah bendera Media Nusantara Citra yang mengkongkonsolidasikan kepemilikan media elektronik televisi (RCTI, Global TV, MNC TV), radio (Sindo Radio), portal berita okezone.com dan cetak (Koran Sindo dan mengangkat anak tiri majalah Trust menjadi anaknya).

Pada Oktober kemarin, Harry Tanoe mulai “spinning” lagi, dengan memproklamirkan diri sebagai pentolan Partai Nasdem bersama hopengnya bos televisi berita pertama Metro TV dan pendiri Koran Media Indonesia, Surya Paloh. Siapa pun tahu, baik Hary Tanoe maupun Surya Paloh semula berinduk pada Kerajaan Cendana yang dikabarkan asetnya Rp150 triliun itu.
Partai Nasdem jelas berseberangan dengan Golkar yang dipimpin Aburizal Bakrie. Karena itu tidak heran bila salah satu ketua Golkar Priyo Budi Santoso seolah memuji keberanian Hary Tanoe masuk partai politik.

Padahal, di balik itu ia membaca dengan terang benderang (istilah ini disundut oleh politisi Senayan) kaitan Hary Tanoe dan Surya Paloh yang bersiap menjegal langkah Aburizal Bakrie di pemilihan Presiden mendatang.
Namun mesin politik Golkar teruji mampu bangkit setelah terpuruk pada Pemilu 1999. Golkar yang secara tradisional tidak pernah “beroposisi” dan menggalang kekuatan di pusaran partai berkuasa.

Orang pun tahu, Ketua Umum Golkar Aburizal memiliki Anteve, TV-One, VIVA news.com dan koran Surabaya Post (dahulu milik keluarga ekonom Iwan Jaya Azis). TV-One jelas head to head dengan Metro TV dalam liputannya, seperti persaingan bos mereka dalam politik. Bergandengan dengan VIVA News.com, TV-One menancapkan kuku yang kuat di pemberitaan politik, ekonomi dan olahraga.

Satu lagi. Konglomerasi media ditengarai oleh langkah gangsing Charul Tandjung dengan membeli detik.com kabarnya dengan nilai fantastis, Rp450 miliar. Pemilik detik.com lama (Abdul Rahman dan Budiono Darsono, keduanya bekas wartawan majalah TEMPO) kini ketawa-tawi menikmati duitnya dengan membeli pulau di Nusa Tenggara Barat.

Katanya, tidak ada agenda politik di balik pendirian TransTv, akuisisi Trans7, dan pembelian detik.com. Murni binis, kata sebuah sumber di grup ini, seperti pembelian jaringan Carrefour.

Media massa memiliki kapasitas membentuk opini publik. Namun ketika konflik kepentingan mencuat di dalamnya, media bisa menyuapi informasi yang dibelokkan dan bisa ditelan lahap oleh publik. Berita yang tidak berimbang akan membuat publik mengambil keputusan yang salah, karena informasinya sudah di-distorsi-kan.

Siapa yang percaya media adalah bisnis murni atawa tidak partisan? Siapa percaya Murdoch bisa menahan syahwat politiknya, jadi king maker gratisan? Kekuasaan itu membuat orang ecstase dan orgasme sekaligus, tapi bisa juga membuat orang mejan sekaligus ejakulasi dini secara politik. [mdr]

Monday, October 24, 2011

Surya Paloh Harapkan Pemerintah Semakin Kuat



Surya Paloh



Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Nasional Demokrat Surya Paloh mengharapkan, pada tiga tahun terakhir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lebih kuat dan solid. 


"Tiga tahun ini Presiden SBY harus tegas dan tak boleh kompromi agar kepemimpinannya tercatat dalam sejarah," kata Surya Paloh kepada wartawan di Kantor Nasional Demokrat, Jakarta, Senin. 

Menurut dia, kementerian harus digenjot sedemikian rupa agar kinerjanya maksimal, serta Sekretariat Gabungan Parpol pendukung Presiden juga difungsikan untuk membantu pemerintah, terutama dalam menjaga program pemerintah berjalan baik. 

"Negara ini sedang lampu kuning. Saya harap pemerintah harus bangkit, kuat, dan maju. Jangan sampai kalah oleh negara lain. Terlebih, dengan sistem presidensial saat ini, Presiden memiliki kewenangan yang lebih," tuturnya. 

Mantan Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar ini berharap, pemerintahan pasca-reshuffle (perombakan) kabinet yang dilakukan Presiden SBY dapat memberikan suasana baru bagi masyarakat. 

"Perjuangan terpenting pemerintah adalah, bagaimana kebijakannya disambut antusias masyarakat. Dan masyarakat memiliki peran positif dan aktif menyukseskan program itu," katanya. 

Presiden SBY juga minta tak kalah oleh kepentingan-kepentingan parpol pendukung pemerintah. Presiden juga diminta untuk mengesampingkan suara pro maupun kontra karena menurutnya hal itu wajar dalam sebuah negara demokrasi. 

"Apalagi Presiden mendapatkan kekuasaannya dengan cara legal. Apabila pemerintah gagal, bangsa lain tak akan mungkin melindungi kepentingan nasional. Jadi, tak usah terlalu banyak mempertimbangkan kepentingan negara lain," ujar Surya Paloh menegaskan.


http://id.berita.yahoo.com/surya-paloh-harapkan-pemerintah-semakin-kuat-101218000.html