| Pengurus Ormas Nasional Demokrat Wilayah Sulawesi Utara & NTT |
Saturday, June 23, 2012
Nasdem Jamin Sumber Dananya
Bersih Korupsi
JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal Partai Nasdem, Ahmad
Rofiq, menjamin bahwa uang yang digunakan partai untuk membiayai calon
legislatif dalam menempuh Pemilu Legislatif 2014, bersih dari korupsi.
"Kita pastikan seratus persen bersih dari
korupsi, tidak ada noda, tidak ada uang gelap hasil perselingkuhan elit,"
kata Rofiq di Jakarta, Sabtu (23/6/2012).
Partai Nasdem berencana mendanai biaya kampanye para calegnya.
Masing-masing caleg akan mendapat jatah Rp 5 hingga 10 miliar untuk biaya
kampanye. Total dana yang disediakan Nasdem untuk 300-an caleg mencapai Rp 3
triliun.
Rofiq tak menampik kalau sumber dana Partai
Nasdem sebagian besar berasal dari pengusaha. Dia mengatakan, tidak semua
pengusaha punya motif politik yang mengedepankan kepentingan usahanya.
"Tapi juga mengedepankan kepentingan perubahan bangsa ini. Kelelahan
dengan ekonomi yang tidak berjalan baik," ujarnya.
Ketika menyumbang, lanjut Rofiq, para pengusaha itu punya ketulusan hati.
"Apa kepentingan Surya Paloh dan Hary Tanoesoedibjo membiayai ini? Kalau
untuk kepentingan diri sendiri, mereka sudah cukup," ucapnya.
Nasdem dipelopori Surya Paloh, bos Media Grup. Belakangan, bergabung Bos MNC
Grup Hary Tanoesoedibjo dalam partai yang mengusung slogan restorasi Indonesia
itu.
Menurut Rofiq, partainya tidak membatasi
jumlah dana yang boleh disumbangkan Surya Paloh dan Hary ke Nasdem. "Kalau
mereka bagian dari partai, tidak terbatas," ujarnya. Dia juga tidak
membantah kemungkinan Surya Paloh dan Hary mendominasi kebijakan partai
nantinya.
Sunday, November 27, 2011
Jejak Politik Para Saudagar Media
![]() |
| Hary Tanoesoedibyo-Aburizal Bakirie-Surya Paloh-Chairul Tandjung |
Opini: Bachtiar Abdullah
Nasional - Sabtu, 26
November 2011 | 21:21 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Rupert Murdoch adalah
khas king maker politik di Inggris dan negeri asalnya,
Australia. Di Amerika, kakek ini termasyhur menggalakkan haluan politiknya yang
konservatif melalui jaringan televisi Fox News Channel. Di China, dia menjadi
saudagar media yang sedang berupaya menjejakkan kaki di negara yang sangat
ketat mengontrol pasar media.
Jejak langkah Murdoch adalah template yang
mudah dikopi oleh mereka yang sudah punya duit di seluruh dunia, partai politik
yang berkuasa atau bahkan negara.
Triliuner dadakan Hary Tanoesoedibyo rajin mengubah haluan bisnis sejak muda. Ia
adalah anak muda pedagang kusen dan daun jendela semasa kuliah di Kanada dan
Amerika, sembari main di Wall Street. Balik ke Indonesia, ia mendirikan
perusahaan sekuritas PT Bhakti Investama
bersama Titiek Soeharto.
Ia bisa memutar bisnis seperti gangsing justru
pada saat turbulensi keuangan Asia Tenggara berepisentrum di Indonesia. Ia bisa meyakinkan Bambang Trihatmodjo dan
trah Cendana untuk menjalankan macam-macam bisnis.
Dengan kemampuannya sebagai investment banker
Hary bisa mengajak philantrofis George
Soros bertemu Presiden Gus Dur. Tak lama kemudian ia mempersilakan Soros masuk ke Bhakti Investama dan mencicipi
15% saham Bahkti Investama.
Pada 2002, Bambang Tri makin sibuk dengan
biduan Mayangsari, ia merelakan grup Bimantara dibeli Hary Tanoe saja. Hary
Tanoe secepat kilat membuat gerakan puting beliung, dengan menggemukkan
jaringan media di bawah bendera Media Nusantara Citra yang
mengkongkonsolidasikan kepemilikan media elektronik televisi (RCTI, Global TV,
MNC TV), radio (Sindo Radio), portal berita okezone.com dan cetak (Koran Sindo dan mengangkat anak
tiri majalah Trust menjadi anaknya).
Pada Oktober kemarin, Harry Tanoe mulai
“spinning” lagi, dengan memproklamirkan diri sebagai pentolan Partai Nasdem
bersama hopengnya bos televisi berita pertama Metro TV dan pendiri Koran Media
Indonesia, Surya Paloh. Siapa pun
tahu, baik Hary Tanoe maupun Surya Paloh semula berinduk pada Kerajaan Cendana
yang dikabarkan asetnya Rp150 triliun itu.
Partai Nasdem jelas berseberangan dengan
Golkar yang dipimpin Aburizal Bakrie. Karena itu tidak heran bila salah satu
ketua Golkar Priyo Budi Santoso seolah memuji keberanian Hary Tanoe masuk
partai politik.
Padahal, di balik itu ia membaca dengan terang
benderang (istilah
ini disundut oleh politisi Senayan) kaitan Hary Tanoe dan Surya Paloh yang bersiap menjegal langkah
Aburizal Bakrie di pemilihan Presiden mendatang.
Namun mesin politik Golkar teruji mampu
bangkit setelah terpuruk pada Pemilu 1999. Golkar yang secara tradisional tidak
pernah “beroposisi” dan menggalang kekuatan di pusaran partai berkuasa.
Orang pun tahu, Ketua Umum Golkar Aburizal memiliki Anteve, TV-One, VIVA news.com dan koran Surabaya Post (dahulu milik keluarga
ekonom Iwan Jaya Azis). TV-One jelas head to head dengan Metro TV dalam liputannya, seperti persaingan bos
mereka dalam politik. Bergandengan dengan VIVA News.com, TV-One menancapkan
kuku yang kuat di pemberitaan politik, ekonomi dan olahraga.
Satu lagi. Konglomerasi media ditengarai oleh
langkah gangsing Charul Tandjung dengan membeli detik.com kabarnya dengan nilai fantastis, Rp450 miliar. Pemilik detik.com lama (Abdul Rahman dan Budiono Darsono,
keduanya bekas wartawan majalah TEMPO) kini ketawa-tawi menikmati duitnya dengan membeli pulau di Nusa
Tenggara Barat.
Katanya, tidak ada agenda politik di balik
pendirian TransTv, akuisisi Trans7, dan pembelian detik.com. Murni
binis, kata sebuah sumber di grup ini, seperti pembelian jaringan Carrefour.
Media massa memiliki kapasitas membentuk opini
publik. Namun ketika konflik kepentingan mencuat di dalamnya, media bisa
menyuapi informasi yang dibelokkan dan bisa ditelan lahap oleh publik. Berita yang
tidak berimbang akan membuat publik mengambil keputusan yang salah, karena
informasinya sudah di-distorsi-kan.
Siapa yang percaya media adalah bisnis murni
atawa tidak partisan? Siapa percaya Murdoch bisa menahan syahwat politiknya,
jadi king maker gratisan? Kekuasaan itu membuat orang ecstase dan orgasme
sekaligus, tapi bisa juga membuat orang mejan sekaligus ejakulasi dini secara
politik. [mdr]
Monday, October 24, 2011
Surya Paloh Harapkan Pemerintah Semakin Kuat
![]() |
| Surya Paloh |
Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Nasional Demokrat Surya Paloh mengharapkan, pada tiga tahun terakhir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lebih kuat dan solid.
"Tiga tahun ini Presiden SBY harus tegas dan tak boleh kompromi agar kepemimpinannya tercatat dalam sejarah," kata Surya Paloh kepada wartawan di Kantor Nasional Demokrat, Jakarta, Senin.
Menurut dia, kementerian harus digenjot sedemikian rupa agar kinerjanya maksimal, serta Sekretariat Gabungan Parpol pendukung Presiden juga difungsikan untuk membantu pemerintah, terutama dalam menjaga program pemerintah berjalan baik.
"Negara ini sedang lampu kuning. Saya harap pemerintah harus bangkit, kuat, dan maju. Jangan sampai kalah oleh negara lain. Terlebih, dengan sistem presidensial saat ini, Presiden memiliki kewenangan yang lebih," tuturnya.
Mantan Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar ini berharap, pemerintahan pasca-reshuffle (perombakan) kabinet yang dilakukan Presiden SBY dapat memberikan suasana baru bagi masyarakat.
"Perjuangan terpenting pemerintah adalah, bagaimana kebijakannya disambut antusias masyarakat. Dan masyarakat memiliki peran positif dan aktif menyukseskan program itu," katanya.
Presiden SBY juga minta tak kalah oleh kepentingan-kepentingan parpol pendukung pemerintah. Presiden juga diminta untuk mengesampingkan suara pro maupun kontra karena menurutnya hal itu wajar dalam sebuah negara demokrasi.
"Apalagi Presiden mendapatkan kekuasaannya dengan cara legal. Apabila pemerintah gagal, bangsa lain tak akan mungkin melindungi kepentingan nasional. Jadi, tak usah terlalu banyak mempertimbangkan kepentingan negara lain," ujar Surya Paloh menegaskan.
http://id.berita.yahoo.com/surya-paloh-harapkan-pemerintah-semakin-kuat-101218000.html
Labels:
Nasional Demokrat Sulut
Wednesday, September 7, 2011
Paloh: Saya Tak Butuh Golkar Lagi
JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum sekaligus pendiri ormas
masyarakat Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh resmi mundur dari Partai Golkar. Menurutnya, pengunduran dirinya
tersebut merupakan langkah antiklimaks terhadap perjuangannya selama 43 tahun
di partai berlambang pohon beringin tersebut.
Golkar, saya yakin, tidak memerlukan saya
lagi. Dan, saya juga berpikir kalau saya sudah tidak memerlukan golkar lagi.
Meskipun demikian, Paloh mengatakan, pilihan ini bukanlah akhir
dari kariernya di dunia politik. Dia meyakini peran politiknya tidak akan
berakhir seiring keputusannya keluar dari Golkar.
"Perubahan ini adalah perkara hari ini dan hari depan.
Perubahan membutuhkan organisasi politik yang bisa menempa kader dan massa
dengan elan pergerakan, memimpin rakyat, serta mengorganisasikan perjuangan
untuk menjawab tantangan zaman," tuturnya.
Sebelumnya, Paloh mengatakan, salah satu pertimbangan
pengunduran dirinya tersebut karena ia menilai Partai Golkar tidak mampu
berinteraksi dengan satu keinginan yang timbul dalam masyarakat. Hal itu, kata
Paloh, dapat dilihat dari angka pemilih Partai Golkar pada pemilihan umum, dari
24 persen pada 1999 menurun hingga 14 persen di pemilu terakhir pada 2009.
"Ini merupakan sebuah tren penurunan. Ada apa, apa yang
salah? Ada yang kurang dalam Golkar. Tentu wajar apabila ini merupakan sebuah
perenungan bagi kader-kader sejati Golkar," papar Paloh.
Paloh memutuskan keluar dari Golkar setelah mendirikan
organisasi massa Nasdem. Ia bergabung dengan Golkar sejak Pemilu 1971 ketika
masih berusia 19 tahun. Ketika itu, dia dicalonkan menjadi anggota DPRD
Kotamadya Medan.
Thursday, September 1, 2011
Paloh: Saya Ambil Sikap dalam Waktu Singkat
![]() |
| Surya Paloh |
JAKARTA, KOMPAS.com - Politisi Senior Partai Golkar, Surya Paloh mengungkapkan, dirinya akan segera mengambil keputusan mengenai statusnya di partai berlambang pohon beringin tersebut.
Sampai saat ini ia masih berstatus sebagai kader Golkar dan juga sebagai Ketua Umum sekaligus pendiri organisasi masyarakat Nasional Demokrat (Nasdem). Organisasi yang juga melahirkan partai dengan nama yang sama itu dipertanyakan Partai Golkar.
"Itu (kepastian keanggotaan Golkar) pekerjaan rumah dari Golkar lah. Saya pikir mungkin saya harus ada satu kebijakan, yang segera saya ambil dalam waktu singkat dan saya pikirkan apa yang terbaik. Baik bagi semua dan baik bagi negeri ini," ujar Surya Paloh saat menghadiri open house di kediaman mantan Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla di Jakarta, Kamis (1/8/2011).
Soal perpanjangan batas waktu penetapan status semua anggota Golkar yang masih terdaftar di ormas Nasdem tersebut, Paloh, mengaku tak mengerti mengapa diperpanjang. Ia mengaku memang telah menerima surat deadline dari Sekretariat Partai Golkar.
"Saya enggak memahami itu, mau diperpanjang atau mau tidak diperpanjang. Saya pikir masalah utama bukan masalah deadline anggota organisasi masyarakat Nasional Demokrat di Partai Golkar ya. Permasalahan bangsa ini begitu besar dan kompleks. Saya amat menyayangkan Golkar masih mengurusi urusan-urusan seperti ini," sambungnya.
Ditanya, memilih biru atau kuning. Ia tersenyum. "Kalau memang modelnya begini, saya pikir harus menjadi perhatian secara serius bagi saya. Artinya bisa saja saya tetap di Golkar atau keluar dari Golkar. Kita lihatlah nanti. Dalam waktu singkatlah saya putuskan," tukas Paloh.
Seperti diberitakan, Partai Golkar kembali mengirimkan surat pada para kadernya yang masuk organisasi Nasional Demokrat untuk menentukan pilihan mereka. Tanggal 8 September 2011 menjadi tenggat waktu bagi kader Golkar yang masih mendua. Sebelumnya deadline diberikan pada tanggal 11 Agustus 2011. Namun, hingga kini termasuk Surya Paloh belum menetapkan pilihannya.
http://nasional.kompas.com/read/2011/09/01/1603484/Paloh.Saya.Ambil.Sikap.dalam.Waktu.Singkat
Monday, August 1, 2011
Priyo Ragu Partai Nasdem Lolos Verifikasi
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Dengan sedikit tersenyum, Ketua DPP Partai Golkar, Priyo Budi Santoso ragu partai Nasional Demokrat (Nasdem) bisa lolos verifikasi partai di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham). "Lolos tidaknya verifikasi kan belum ketahuan. Tapi syaratnya berat lho," katanya saat ditemui, Senin (1/8).
Dalam revisi UU Pemilu memang sedang dirancang syarat-syarat dalam pemilu dengan tujuan, salah satunya, untuk penyederhanaan partai politik. Misalnya dengan pengadaan aturan mengenai setiap partai memiliki perwakilan di setiap provinsi lengkap dengan kantor dan susunan kepengurusannya.
Ia meyakinkan partai Nasdem yang baru dideklarasikan pekan lalu tidak merisaukan keberadaan Partai Golkar. Bukan hanya persyaratan yang harus diloloskan dari segi adminstrasi tetapi juga keberadaan sosok di dalam partai tersebut.
Terlebih lagi, tokoh-tokoh hebat yang berada dalam bendera Nasdem sudah mundur jauh sebelum deklarasi itu dilakukan. "Kharisma dan ruh politiknya sudah kehilangan. Apalagi pimpinan partainya orang yang tidak kami kenal. Jadi, Golkar tenang-tenang saja," katanya.
Partai Nasdem sudah mendaftarkan diri ke Kemenkumham pada 27 Juli lalu. Nasdem resmi mencalonkan diri sebagai salah satu peserta pemilu 2014. Partai ini dipimpinan oleh Patrice Rio Capella yang yakin bisa lolos verifikasi di Kemenkumham.
Sementara untuk ultimatum yang diberikan Partai Golkar terhadap kadernya yang berada di bawah bendera Nasdem baik ormas ataupun partai, Priyo mengatakan masih menuggu batas waktu itu habis. Tetapi ia mengakui keberadaan kader di ormas Nasdem ikut menyulitkkan. "Ya… cepat atau lambat kan akan ketahuan (memilih Golkar atau Nasdem)," katanya.
Sayangnya, status Surya Paloh sendiri yang masih menjabat ketua umum ormas Nasdem pun tak mau dikomentari banyak. Menurutnya, ada hal yang menarik dari Surya Paloh karena dalam deklarasi partai Nasdem, ia tidak muncul. Tetapi, dalam konferensi pers akhir pekan lalu ia menyatakan diri masih Partai Golkar.
"Positifnya, hati kecilnya masih ingin dengan Partai Golkar. Ini reaksi bawah sadar," katanya. Yang jelas, ia masih menunggu hingga pertengahan Agustus ini untuk melihat sikap politik dari kader Partai Golkar yang masih mendua.
Subscribe to:
Posts (Atom)



